Kediri – Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo menggelar kegiatan Koordinasi Persiapan Ujian Komprehensif 2026 pada Rabu, 1 April 2026 di Ruang Senat mulai pukul 10.00 WIB hingga 12.00 WIB. Kegiatan ini dihadiri pimpinan universitas, Lembaga Penjaminan Mutu (LPM), serta perwakilan program studi guna memastikan kesiapan pelaksanaan ujian komprehensif bagi mahasiswa tingkat akhir.
Dalam arahannya, Rektor melalui Wakil Rektor I Dr. H. A. Jauhar Fuad, M.Pd. menegaskan bahwa ujian komprehensif merupakan bagian penting dalam upaya membangun distingsi atau keunggulan perguruan tinggi. Menurutnya, setiap perguruan tinggi harus memiliki ciri khas yang membedakan dengan kampus lain agar memiliki daya tarik bagi masyarakat dan pengguna lulusan.
Ia menjelaskan bahwa ujian komprehensif diharapkan menjadi pintu masuk untuk menegaskan identitas dan kualitas lulusan dari setiap program studi. Sehingga mahasiswa tidak hanya menyelesaikan studi secara formal, tetapi juga memiliki kompetensi yang menjadi kekhasan institusi.
“Kompre ini diharapkan menjadi pintu masuk untuk memberikan distingsi pada lulusan dan juga menjadi distingsi bagi masing-masing program studi yang ada,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, ujian komprehensif akan menilai mahasiswa berdasarkan beberapa kriteria utama yang telah disusun oleh pihak universitas. Setidaknya terdapat empat kriteria penilaian utama, yaitu kompetensi keprodian, amaliah Nahdlatul Ulama (NU), kemampuan membaca kitab, serta beberapa kompetensi pendukung lainnya.
Untuk kompetensi keprodian, mahasiswa ditargetkan dapat lulus dengan nilai minimal 50. Sementara itu, pada aspek amaliah Nahdlatul Ulama, mahasiswa dinyatakan lulus apabila memperoleh nilai minimal 60. Penilaian mencakup praktik ibadah dan amaliah seperti bacaan tahlil, qunut, dzikir setelah salat, serta hafalan surat-surat pendek dan pilihan.
Selain itu, kemampuan membaca kitab juga menjadi salah satu indikator penting dalam penilaian. Namun, kemampuan ini tidak langsung diklasifikasikan dalam kategori lulus atau tidak lulus, melainkan dibagi dalam beberapa tingkatan seperti sangat baik, baik, cukup, dan kurang.
Hasil ujian komprehensif nantinya akan dicantumkan dalam sertifikat yang menunjukkan capaian kompetensi mahasiswa secara rinci. Sertifikat tersebut akan menampilkan nilai dari setiap komponen ujian sehingga menjadi gambaran kompetensi yang dimiliki mahasiswa setelah menyelesaikan pendidikan.
Menurut Jauhar Fuad, sistem ini diharapkan mampu mendorong mahasiswa untuk terus meningkatkan kualitas diri. Tidak hanya bagi mahasiswa yang sedang menjalani ujian, tetapi juga bagi mahasiswa di tingkat bawah agar sejak awal mempersiapkan kompetensi yang dibutuhkan.
Selain ujian komprehensif, universitas juga mulai menyiapkan berbagai instrumen pendukung seperti ujian bahasa, sertifikasi Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), serta pemeriksaan plagiasi skripsi. Seluruh komponen tersebut dirancang sebagai bagian dari mekanisme kontrol mutu akademik yang lebih sistematis.
“ke depan mahasiswa akan diarahkan menyelesaikan seluruh mata kuliah hingga semester tujuh, sehingga pada semester delapan mereka hanya fokus pada penyusunan skripsi serta mengikuti ujian komprehensif dan tes kompetensi lainnya” terangnya.
Sementara itu, Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIT Lirboyo, Drs. H. Abd. Halim Mustofa, M.HI, menyampaikan apresiasi kepada pimpinan universitas yang terus mendorong peningkatan kualitas ujian komprehensif dari tahun ke tahun.
Ia menilai bahwa sebelumnya pelaksanaan ujian komprehensif sering kali dilakukan secara terburu-buru dan belum sepenuhnya memenuhi standar mutu yang diharapkan. Namun, saat ini sistem yang disusun telah menunjukkan upaya serius dalam meningkatkan kualitas evaluasi akademik.
“Ujian komprehensif ini bukan untuk mempersulit mahasiswa lulus, tetapi untuk meningkatkan mutu akademik sebagai bagian dari tugas utama sivitas akademika,” jelasnya.
Menurutnya, ujian komprehensif merupakan bagian dari siklus penjaminan mutu yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, pengendalian, dan peningkatan. Oleh karena itu, seluruh panitia dan unit terkait diminta bekerja secara serius agar proses ini berjalan dengan baik.
Ia juga menekankan pentingnya peran berbagai unit, termasuk perpustakaan, yang akan terlibat dalam proses pengecekan plagiasi karya ilmiah mahasiswa sebagai salah satu syarat mengikuti ujian.
“Diharapkan pelaksanaan ujian komprehensif tahun 2026 dapat berjalan lebih terstruktur dan mampu meningkatkan kualitas lulusan Universitas Islam Tribakti Lirboyo” ungkapnya.
Dengan sistem evaluasi yang lebih komprehensif, kampus berharap mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki karakter dan kompetensi keislaman yang kuat.





