Upaya Penguatan Sistem Penjaminan Mutu, LPM UIT Lirboyo Ikuti Seminar Architecting Excellence AISINDO

AISINDO

Bagikan

Surabaya – Upaya peningkatan kualitas pendidikan tinggi kembali digelorakan LPM UIT Lirboyo Kediri dengan mengikuti kegiatan Seminar “Architecting Excellence: Sinergi OBE, SPMI, dan SPME Menuju Kampus Unggul Berdampak.” Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat, 10 April 2026, bertempat di Integrity Hall Universitas Ciputra Surabaya, mulai pukul 13.30 WIB hingga 17.00 WIB.

Menghadirkan narasumber utama Prof. Wahyudi Agustiono, yang merupakan Vice President III dari AISINDO. Sosialisasi tersebut diikuti oleh berbagai perwakilan perguruan tinggi yang ingin memperkuat implementasi sistem penjaminan mutu di institusi masing-masing.

Dalam pemaparannya, Prof. Wahyudi menegaskan bahwa kualitas suatu perguruan tinggi sangat ditentukan oleh mutu lulusannya. Menurutnya, apabila lulusan yang dihasilkan tidak mampu memberikan kontribusi nyata di masyarakat, maka hal tersebut menunjukkan bahwa sistem penjaminan mutu dalam institusi belum berjalan secara optimal.

Ia menjelaskan bahwa Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) menjadi fondasi utama dalam membangun kualitas perguruan tinggi. SPMI bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi merupakan sistem yang harus dijalankan secara konsisten untuk memastikan seluruh proses akademik berjalan sesuai standar mutu.

“SPMI merupakan kewajiban bagi seluruh perguruan tinggi. Tidak ada pengecualian, baik perguruan tinggi besar maupun kecil. Semua harus memiliki sistem penjaminan mutu yang berjalan dengan baik,” jelasnya.

Selain itu, Prof. Wahyudi juga menyoroti pentingnya penerapan Outcome Based Education (OBE) dalam proses pembelajaran. Menurutnya, pendekatan OBE menekankan pada hasil akhir berupa kompetensi yang dimiliki oleh lulusan, bukan hanya pada proses pembelajaran yang berlangsung di kelas.

“inilah yang kemarin dikatakan apa ya ada outcome base kurikulum learning sama assesment sama” ungkapnya.

Menurut Prof. Wahyudi, bahwa integrasi antara OBE, SPMI, dan Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME) merupakan langkah strategis dalam mewujudkan kampus yang unggul dan berdampak. Ketiga sistem tersebut harus berjalan secara sinergis agar perguruan tinggi mampu meningkatkan kualitas akademik secara berkelanjutan.

Termasuk, Prof. Wahyudi turut menyinggung perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang semakin memengaruhi dunia pendidikan. Menurutnya, kehadiran teknologi tersebut seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

“dosen perlu mendorong mahasiswa agar tidak hanya mampu mengakses informasi, tetapi juga mampu berpikir kritis, melakukan analisis, serta menciptakan inovasi yang bermanfaat” terangnya.

Di sisi lain, Ketua Lembaga Penjaminan Mutu UIT Lirboyo, Drs. H. Abd. Halim Mustofa, M.HI, menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini menjadi momentum penting bagi perguruan tinggi untuk memperkuat orientasi mutu dalam seluruh aspek penyelenggaraan pendidikan tinggi.

Menurutnya, tantangan perguruan tinggi saat ini tidak hanya sebatas memenuhi standar administratif, tetapi juga membangun budaya mutu yang hidup dalam tata kelola, proses pembelajaran, penelitian, dan layanan kepada mahasiswa.

“Penguatan mutu tidak cukup hanya berhenti pada dokumen atau instrumen. Yang lebih penting adalah bagaimana mutu itu menjadi budaya kerja seluruh sivitas akademika. Ketika budaya mutu tumbuh, maka kampus akan lebih siap menghadapi akreditasi, lebih adaptif terhadap perubahan, dan mampu menghasilkan lulusan yang unggul,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa sinergi antara OBE, SPMI, dan SPME harus dipahami sebagai satu kesatuan sistem yang saling menguatkan. Dengan demikian, perguruan tinggi dapat menjalankan proses evaluasi dan perbaikan berkelanjutan secara lebih terarah.

“Manfaatnya memberikan perspektif baru bahwa penjaminan mutu bukan beban tambahan, melainkan kebutuhan strategis bagi masa depan perguruan tinggi. Jika sistem mutu kuat, maka kepercayaan masyarakat juga akan semakin meningkat,” tambahnya.

Ia juga berharap dapat terus dilakukan secara berkelanjutan agar perguruan tinggi memiliki ruang untuk saling berbagi pengalaman, strategi, dan praktik baik dalam mengembangkan sistem penjaminan mutu.

“Melalui kegiatan sosialisasi ini diharapkan perguruan tinggi semakin siap dalam membangun budaya mutu yang kuat dan menghasilkan lulusan yang berkualitas serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat” paparnya.

Scroll to Top